BETULKAH MERINTIS BISNIS PROPERTI SEBAGAI PENGEMBANG BENAR-BENAR GAMPANG??? Silahkan simak jawabannya disini : http://bukupengembangproperti.blogspot.com/2012/03/merintis-bisnis-properti-sebagai.html

Cari Artikel Menarik Disini

Senin, 09 Agustus 2010

KAMI BUKAN HOMO



KAMI BUKAN HOMO
Surat Order Membangun

Di sebuah hotel di Kota KEDIRI. Bangun pagi perut lapar. Setelah mandi, kami bertiga turun ke resto untuk breakfast. Kami benar benar kelaparan ...

Saat mau masuk resto, kami sebutkan no kamar kami. Tapi kami terkejut saat dikatakan bahwa cuma 2 orang yang boleh masuk, 1 orang tidak terdaftar.

Lha bukannya kalau ektra bed juga dapat breakfast? Tanya saya komplain.

Iya betul, ektra bed dapat hak breakfast. Masalahnya di kamar bapak tidak tercatat ada pemakai ekstra bed, jawab mbak penjaga dengan mencoba tersenyum manis. Tapi senyumnya tak mampu meruntuhkan hatiku. Saya tetap komplain.

Piye sih mbak? Lha wong teman saya ini memang semalam tidur bertiga di kamar kami kok ektra bed nya tidak diakui. Yang antar ektra bed ke kamar memangnya siapa? Tak mungkin 1 bed ukuran 120 cm untuk berdua. Kami bukan homo mbak, hehe ...

Begini deh mbak, tak masalah kalau ektra bed kami tidak diakui. Artinya orang ke 3 boleh kena charge untuk breakfast di resto ini. Tapi ingat ya, kami tak mau kena charge tambahan ektra bed, kata saya sambil senyum senyum. Kami bertiga dengan santai masuk ke resto.

Mbak penjaganya agak bengong. Dan kami lihat kemudian dia sibuk berkoordinasi via telepon.

Saat kami bertiga asyik sarapan, dia mendekat ke meja kami, lalu berkata; Maaf sebelumnya pak, setelah kami cek ternyata benar ada tambahan ekstra bed di kamar bapak. Jadi teman bapak free makan pagi karena berhak untuk mendapatkan itu. House Keeping tidak koordinasi dengan FB (food beverage). Maaf pak.

Nah lo?? Siapa yang salah non??

Jadi ingat 5 tahun yang lalu di salah satu proyek saya ada kasus konsumen sudah akad kredit, dan dijanjikan serah terima bangunan 6 bulan berikutnya. Saat sudah 5 bulan sejak akad kredit dan konsumen iseng nengok kavlingnya, konsumen marah-marah karena pondasi rumahnya belum digali sama sekali.

Kami kalang kabut. Antar divisi saling menyalahkan. Saling tuding siapa yang salah sehingga lalai membuka SPK bangunan untuk unit tersebut. Buru buru kami buka SPK untuk target penyelesaian 2 bulan. Pastinya telat STB.

Setelah itu kami rapat koordinasi dan mencoba membuat sisdur yang lebih baik. Kemudian muncul yang namanya SURAT ORDER MEMBANGUN. Ini adalah form yang mesti dibuat oleh staf KPR (cq. Div. Keuangan) ke divisi Teknik, supaya segera memulai pembangunan sebuah unit rumah setelah dilakukan akad kredit.

Dengan SOM ini diharapkan tidak akan terjadi kelalaian lagi yang berakibat keterlambatan penyerahan bangunan kepada konsumen. Karena antar divisi saling mengingatkan dan berkoordinasi.

Kata kuncinya; KOORDINASI.
Lakukan koordinasi lintas divisi supaya tidak terjadi miskomunikasi.

Sabtu, 07 Agustus 2010

GAGAL NYABUN DI KAMAR MANDI



GAGAL NYABUN DI KAMAR MANDI
Seni Budgeting

Pagi ini saya dibikin senewen di kamar mandi sebuah hotel di Solo. Saat lagi bersiap mau menjadi pembicara Seminar CARA GAMPANG JADI PENGEMBANG yang diselenggarakan oleh HIPMI Solo.

Gara-garanya saya gagal mendapatkan setelan yang pas untuk mendapatkan air hangat buat mandi. Kran air panas dinginnya sangat susah dikendalikan. Disetel warna MERAH, mengucur air yang panasnya sakit di punggung. Disetel warna BIRU, mengucur air dingin yang membikin tubuh menggigil.

Cari setelan tengah-tengah yang pas supaya mengalir air HANGAT benar-benar sulit. Sudah diatur dengan pelan-pelan. Menggeser kran sedikit-sedikit. Tapi tetap saja yang mengucur air panas atau air dingin. Tak bisa diperoleh air HANGAT. Setelan kran nya sungguh susah diatur. Antara panas dan dingin benar benar tak bisa didapat titik tengahnya.

Saya sampai gagal nyabun di kamar mandi. Hanya menyiram sebentar dengan air dingin lalu buru buru ngambil handuk, hehe .....

Saya jadi membandingkan kejadian di kamar mandi ini dengan kondisi saat kita membikin BUDGET bangunan atau infrastruktur didalam ACTION PLAN proyek kita. Sangat sulit mengestimasi budget yang tepat dan presisi.

Jika kita budget harga borongan yang longgar, kita akan mudah mendapatkan rekanan kontraktor yang bersedia menggarap pekerjaan kita. Tapi resikonya, mungkin harga jual kita kurang kompetitif karena dibebani budget yang besar.

Sebaliknya jika kita budget harga borongan dengan konsep slim and fit (ngepas), maka kita akan beroleh pembebanan yang relatif tidak berat ke proyek kita, tapi konsekwensinya susah banget mencari rekanan pemborong yang mau menerima SPK dari kita.

Jadi kita memlih cara budgeting yang mana? Kalau saya memilih kabur, gak jadi nyabun. Tapi tetap mandi, hehe .... Maksudnya, budget air dingin, tapi tetap jadi bangunan atau infrastaruktur dengan kualitas yang bagus.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis