BETULKAH MERINTIS BISNIS PROPERTI SEBAGAI PENGEMBANG BENAR-BENAR GAMPANG??? Silahkan simak jawabannya disini : http://bukupengembangproperti.blogspot.com/2012/03/merintis-bisnis-properti-sebagai.html

Cari Artikel Menarik Disini

Memuat...

Minggu, 01 Mei 2016

TEKNIK PROBING UNTUK MENGGALI INFORMASI LEBIH BANYAK DARI KONSUMEN

NONTON CIVIL WAR BIKIN PEGEL


Pernahkah anda mengalami kejadian seperti ini? 

Lagi kongkow kongkow dengan beberapa orang teman sambil menikmati camilan dan minuman, sembari ngobrol ringan kesana kemari. Kemudian anda berkata seperti ini ;

"Anakku yang perempuan ngajak nonton film Ada Apa Dengan Cinta, tapi aku belum tahu mainnya di theatre mana dan jam berapa ..."

Ketika anda berbicara seperti itu, pastinya anda berharap diantara beberapa teman ngobrol disitu ada yang memberi info bahwa mainnya di theatre ini, jam nya jam sekian. Jadi mereka merespon kalimat anda yang mengandung kebutuhan informasi.

Ternyata harapan anda meleset, tak ada yang merespon dan memberi jawaban atas kebutuhan informasi anda. Malah mereka sibuk bercerita tentang anaknya masing-masing.

"Lha anakku mau nonton Civil War malah kehabisan tiket. Datang jam 14, yang tersedia pertunjukan terakhir jam 21 malam. Lha malah pegel nunggu sekian lama dan kemudian memilih pulang," kata si A.

"Haha, sama dong. Anakku berenam dengan temannya mau nonton Captain America, cuma tersedia 2 tiket saja. Akhirnya juga pulang," kata si B.

"Beruntung anakku deh, bisa nonton jam 19 karena siangnya suamiku sudah menyuruh sopir belikan tiket duluan," kata si C.

Kalau anda mengalami kejadian seperti diatas, jangan manyun, jangan ngambek, itu semua spontan dan ada dalilnya. Menurut teori psikologi, ketertarikan terbesar seseorang adalah kepada dirinya sendiri. Jadi mereka ingin menjadi subyek pelaku, bukan sekedar obyek penderita. Mereka ingin bercerita, bukan mendengar cerita.

Sobat properti, itulah sebabnya di dunia marketing dikenal TEKNIK PROBING, yaitu cara membuat konsumen bercerita lebih banyak tentang dirinya, supaya kita tahu apakah level konsumen tersebut baru sekedar membutuhkan INFORMASI, ataukah sudah meningkat di level PELUANG, atau syukur syukur sudah berada di level KEBUTUHAN sehingga tinggal digoyang sedikit saja sudah mendekati closing.

Bagaimana caranya? Banyak banyaklah bertanya, kendalikan arah pembicaraan, dan buatlah konsumen dalam posisi menjawab pertanyaan anda. Terkadang 1 pertanyaan sederhana bisa membuat dia mengumbar banyak informasi yang anda butuhkan.

"Ibu sekarang tinggal dimana?"

"Saya sekarang masih tinggal di rumah mertua. Dulu sih asyik saja tinggal disana sembari menjaga mertua yang sudah sepuh. Tapi sejak punya anak yang sekarang usianya 3 tahun, rasanya tinggal sekamar bertiga sudah kurang nyaman lagi. Saya pengin punya rumah sendiri, meski kecil yang penting ada 2 kamar sehingga terasa lega. Kebetulan suami saya pertengahan bulan Mei ini rencananya bonus dari perusahaan cair, jadi bisa buat bayar DP beli rumah."

Nah lho, cuma ditanya tinggal dimana, malah ngoceh sendiri tentang banyak hal, termasuk cerita bahwa pertengahan Mei ini bonus suaminya cair. Artinya anda tahu bahwa peluang ibu tersebut untuk closing sudah didepan mata. Anda bisa membujuk dia agar bayar booking fee sekarang juga, dan membayar DP nya baru pertengahan bulan nanti.!

Dari mana anda tahu tentang itu? Karena kita banyak bertanya, sehingga konsumen kita akan banyak bercerita dengan sendirinya.

Coba anda bertanya seperti ini :
"Apa ibu sudah nonton film Ada Apa Dengan Cinta?"

"Oh sudah, bagus banget filmnya. Ada adegan Dian Sastro ciuman hot dengan Captain America. Ohhhh so sweet ..."

Lho, ngaco nih !!!

Jangan lupa jadwal workshop properti Cara Gampang Jadi Pengembang Dengan Modal Recehan di Yogyakarta tgl 28-29 Mei 2016, investasi mulai Rp 1,5 jt hub sdr Eko di hp/WA +62 853‑8543‑4168

Sabtu, 30 April 2016

MENERAPKAN STRATEGI COST LEADERSHIP

SAYA BUKAN PEMEGANG SAHAM ALFAMART


Tak jauh dari rumah saya ada Alfamart dan Indomaret yang saling berhadap hadapan. Kali ini dengan sengaja saya mau membandingkan harga atas 2 item produk yang sama, yang kebetulan pagi ini mau saya beli untuk keperluan piknik ke luar kota.

Awalnya saya masuk dulu ke Alfamaret untuk melihat harga shampo Rejoice 170 ml (Rp 12.900) dan sabun muka Vaseline Men (Rp 25.300). 

Selanjutnya saya masuk ke Indomaret untuk melihat barang yang sama, ternyata shampo Rejoice 170 ml disini dijual seharga Rp 18.700 dan sabun muka Vaseline Men dijual seharga Rp 25.900. 

Coba anda tebak bagaimana perilaku saya selaku konsumen? Ya betul, saya keluar dari Indomaret dan berbalik ke Alfamart guna membeli 2 item produk tadi yang jelas-jelas harganya lebih murah. Saya tahu karena saya membanding bandingkan harganya.

Mohon maaf, saya bukan pemegang saham Alfamart, jadi artikel ini bukan untuk memuji Alfamart dan mendiskreditkan Indomaret. Mereka menjual ribuan item produk, dan hanya dengan 2 sampel secara acak tak cukup mewakili untuk menarik sebuah kesimpulan. Bisa jadi untuk jenis item barang yang lain justru Indomaret yang lebih murah.

Sobat properti, analogi diatas hanyalah sebuah pengantar bagi anda untuk mengenal teori COST LEADERSHIP. Ini adalah sebuah cara untuk menciptakan keunggulan kompetitif atas pesaing anda. Definisinya secara sederhana adalah "bagaimana menjual produk dengan harga lebih murah dibanding kompetitor dengan level benefit yang sama". 

Siapapun konsumennya, mereka akan melakukan tindakan komparatif alias membanding bandingkan harga. Dan harga jual adalah sesuatu yang sangat sensitif. Beda harga akan membuat konsumen memilih produk yang harganya lebih murah, tentunya dengan level benefit yang sama.

Shampo 170 ml juga dibandingkan dengan yang 170 ml. Rumah type 36 juga dibandingkan dengan rumah type 36. Dinding bata merah juga dibandingkan dengan dinding bata merah, bukan diadu dengan dinding batako. Atap genting diadu dengan atap genteng, bukan dengan atap galvalum.

Ini teori sederhana, penjual getuk singkong di tepi jalan pun tahu persis bahwa menjual dengan harga lebih murah akan membuat konsumen membeli produk anda.

Apa pelajaran dari artikel ini? Anda mesti memiliki daftar harga kompetitor sebelum menetapkan harga jual produk kita. Anda mesti hati-hati melakukan eksekusi lahan, karena jika harga perolehannya kemahalan, maka output harga jualnya nanti juga kemahalan. 

Bagaimana anda bisa mengetahui harga sebuah lahan kemahalan atau wajar atau murah? Bagaimana anda bisa melakukan simulasi hitungan harga jual padahal lahannya belum anda beli? Caranya mudah, asal anda menguasai skill teknikal membuat ACTION PLAN dan juga jurus Taichi Master, anda bisa melakukan semuanya.

Skill tersebut bisa anda pelajari dengan mengikuti workshop propeti Cara Gampang Jadi Pengembang Dengan Modal Recehan pada tgl 28-29 Mei 2016 mendatang di Yogyakarta. Minat? Hub sdr Eko di hp/WA +62 853‑8543‑4168
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis